Sabtu, 04 Januari 2014

Desaku Malang Kapan Kau di Sayang???



Sampai kapan ini terjadi??

Pertanyaan yang sudah basi yang keluar dari mulut-mulut masyarakat Desa Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan-Sumut, bahkan telah diwarisi dari generasi kegenerasi.
Namun, pertanyaan itu selalu saja terdengar hingga kini, karena memang belum ada yang bisa menjawab secara pasti.
entah sudah yang keberapa kali pemimpin di Asahan berganti,bahkan aku saja malas mengingatnya karena tak ada satu prestasi pun yang mereka tinggalkan untuk Desa kelahiranku ini.

Bila ku coba bayangkan kembali wajah-wajah polos masyarakat desa setiap kali pergantian orang yang bakal memimpin mereka, terlihat senyuman yang begitu lepas dibibir mereka menantikan dengan penuh harap langkah apa yang akan dilakukan pemimpin selanjutnya. Namun lagi-lagi senyuman itu memudar seiring waktu yang tak satupun kebaikan berpihak kepada mereka. 

sungguh ironis memang, menyaksikan kondisi desaku ini. semenjak kecilku jalan darat yang merupakan satu-satunya insfratruktur yang menjadi tonggak perekonomian masyarakat untuk menjual hasil ladangnya, selalu banjir menjadi kubangan dimusim penghujan dan menjadi kepulan debu dimusim kemarau. Bahkan ayahku bercerita, jauh sebelum aku lahir (sebelum merdeka) hingga saat ini kondisi jalan desaku tak pernah berubah.

apa yang sebenarnya terjadi??(sebuah pertanyaan yang sama usang dan basinya dengan pertanyaan diatas tadi). 

ada apa sebenarnya sehingga para pengelola negri ini berhenti berpikir??. Berpikir bagaimana nasib rakyat-rakyat yang dulu sebelum mereka menjabat mereka harapkan suaranya. Para Politisi Level Pusat, Provinsi, Kabupaten baik itu DPD dan Pemkab Asahan sendiri membiarkan jalan tersebut selama 65 tahun.Padahal ada perusahaan bersempadan dengan Desa tersebut seperti PT. Asian Agri, PT. Bridgestone Rubber Sumatera Estate di tambah Pajak Bumi Bangunan yang terus di setor ke Pemkab asahan dan Pajak Kendaraan Mobil dan Sepeda Motor namun apa kenyataan yang terjadi dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ( SPPN ) dengan geliat dan sikap Otonomi Daerah ini tak tampak kami rasakan berpuluh-puluh tahun.


Kemana mereka yang dulunya merengek-rengek mengemis suara??
mungkin ini baru satu dari ribuan kekecewaan-
kekecewaan masyarakat..



 Twitter : @mastonmarpaung
Fb : maston marpaung






 
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar